KEBERSAMAAN

KEBERSAMAAN

Kamis, 21 April 2011

BAGUSKAH EVALUASI SISTEM PERANGKINGAN ?

Orang tua pasti sangat bangga jika anaknya mendapat rangking di atas rata-rata dalam kelasnya. Ini menandakan bahwa anaknya lebih pintar dari yang lain dan si anakpun merasa puas dengan apa yang diperolehnya. Padahal dengan perangkingan seperti ini akan memberikan efek psikologis yang sangat buruk pada anak.
Marilah kita perhatikan uraian dari Anita lie dalam bukunya Cooperative Learning:
Sistem peringkat jelas menanmkan jiwa kompetitif (bersaing). Sejak masa awal pendidikan formal, siswa dipacu agar bisa menjadi lebih baik dari teman-teman sekelas. Sistem kompetisi ini tampak sangat mendominasi dunia pendidikan. Siswa yang jauh melebihi kebanyakan siswa lainnya dianggap berprestasi, sedangkan yang kemampuannya berada di bawah rata-rata kelas dianggap gagal. Sistem semacam ini mengajarkan nilai-nilai survival of the fit-test atau siapa yang kuat dialah yang menang.
Tak pelak lagi, banyak perasaaan negatif timbul dalam diri anak didik terhadap sekolah, pelajaran, guru ataupun teman sekles. Dalam benak anak didik, sekolah adalah arena pertarungan yang akan menentukan apakah dia menang atau kalah. Guru adalah dewa yang siap menempelkan label-label pandai, sedang atau bodoh di dahi anak didik. Teman sekelas adalah musuh. Karena, agar seseorang bisa menjadi pemenang harus mampu mengalahkan teman-teman sekelas. Perasaan negatif ini bisa muncul, baik pada siswa lamban maupun mereka yang pandai. Selain merasa minder, siswa lamban jadi membenci teman-temannya yang lebih pandai karena dianggap menaikkan rata-rata kelas sehingga memposisikan prestasi mereka yang lamban pada peringkat bawah. Sebaliknya, siswa yang pandai menjadi terbiasa untuk merasa puas dan bangga pada diri sendiri di atas kekalahan teman-teman sekelasnya.
Karena ketatnya sistem persaingan (kompetisi), dunia pendidikan telah menelurkan manusia-manusia yang siap untuk menerjang dan menjegal orang lain demi kesuksesan diri sendiri. Homo homini lupus merupakan prinsip dasar dalam dunia kompetisi. Orang-orang ini tidak pernah atau sedikit sekali dibekali kemampuan untuk bisa bekerja sama dengan orang lain. Padahal, dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam dunia pekerjaan, kemampuan untuk bersinergi (bekerja sama) merupakan kunci keberhasilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar