KEBERSAMAAN

KEBERSAMAAN

Selasa, 05 April 2011

Locus of control

Locus of control
Konsep tentang locus of control pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966), seorang ahli teori pembelajaran sosial. Menurut Rotter (dalam Jung, 1978) mengatakan bahwa pada dasarnya konsep locus of control menunjukkan pada keyakinan atau harapan-harapan individu mengenai sumber penyebab dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, yaitu kejadian-kejadian yang terjadi pada dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari dalam dirinya (internal) atau dari luar dirinya (eksternal). Pendapat ini diperkuat oleh Petri (1980) yang mengatakan bahwa locus of control merupakan konsep yang secara khusus berhubungan dengan harapan individu mengenai kemampuannya untuk mengendalikan penguat yang menyertai pelaku. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib dirinya. Elly Herliani (2009:47) menyatakan bahwa orientasi locus of control pada satu individu merupakan satu bentuk respon awal yang menjadi dasar dari respon selanjutnya yang merupakan rangkaian kinerja aktifitas individu dalam upaya mencapai suatu tujuan dirinya.
Rotter (Penner dalam Herliani, 2009) berpandangan tentang adanya perilaku yang berupa respon individu terhadap lingkungannya. Jika respon tersebut menguntungkan maka individu mengulang perilaku respon tersebut. Dari hal ini Rotter menyimpulkan bahwa kemungkinan perilaku yang muncul pada seseorang didorong oleh dua faktor, sebagai berikut:
a.       Harapan Diri (Personal Expectancy), berupa persepsi individu bahwa satu perilaku menghasilkan keuntungan.
b.      Nilai dari keuntungan, yaitu jika individu berharap bahwa perilakunya menghasilkan keuntungan yang berharga baginya, maka perilaku tersebut akan hilang.
Pada faktor yang pertama, yaitu harapan diri, terdapat dua variabel penentunya, yaitu keadaan lingkungan dan dirinya sendiri yang merupakan penyebab tercapainya tujuan. Artinya harapan diri ini berhubungan dengan masalah  keyakinan perseptual individu bahwa sesuatu itu dikendalikan oleh dirinya atau oleh faktor di luar dirinya. Jadi pada dasarnya locus of control adalah masalah pikiran atau persepsi individu tentang siapa atau apa yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada individu tersebut (Calhoun & Acocella  dalam Herliani, 2009).
Locus of control terdiri atas orientasi internal dan orientasi eksternal (Penner dalam Herliani, 2009). Individu yang lebih memiliki orientasi internal merupakan individu yang merespon suatu kejadian yang dihadapi sebagai hal yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bersumber dari dalam dirinya sendiri, sedang individu dengan orientasi eksternal merespon suatu kejadian yang dihadapi sebagai hal yang disebabkan oleh faktor-faktor di luar dirinya baik yang berupa keadaan lingkungan (seperti nasib, keberuntungan, kesempatan) maupun kekuasaan orang lain. Bar-tal, Bar-zohar dan Chen (dalam Panjaitan, 1999) menyatakan bahwa siswa yang memiliki locus of control internal cenderung mempunyai sifat yang lebih aktif dalam mencari, mengolah dan memanfaatkan berbagai informasi, serta memiliki keinginan mencapai prestasi yang lebih tinggi. Siswa yang memiliki locus of control internal memiliki rasa percaya diri lebih tinggi, memiliki kemauan bekerja keras dan memiliki kekhawatiran akan gagal. Sedang menurut (Herliani, 2009:49)  individu dengan kecendrungan orientasi eksternal memiliki karakter yang pasif, hal ini dikarenakan sikap mereka dilandasi oleh kerangka berpikir bahwa kejadian-kejadian dalam hidupnya ditentukan oleh situasi atau orang yang berkuasa dan adanya masalah peluang keberuntungan atau nasib. Mereka menganggap kegagalan berasal dari faktor di luar dirinya.
Menurut Crider dalam Primanda (2008:21) perbedaan karateristik antara internal locus of control dengan external locus of control sebagai berikut :
1. Locus of control internal
a.       Suka bekerja keras.
b.      Memiliki inisiatif yang tinggi.
c.       Selalu berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
d.      Selalu mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
e.       Selalu mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil.
2. Locus of control eksternal
a.       Kurang memiliki inisiatif.
b.      Mempunyai harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.
c.       Kurang suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol.
d.      Kurang mencari informasi untuk memecahkan masalah.
Pada orang-orang yang memiliki internal locus of control faktor kemampuan dan usaha terlihat dominan, oleh karena itu apabila individu dengan internal locus of control mengalami kagagalan mereka akan menyalahkan dirinya sendiri karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan, mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa pengaruh untuk tindakan selanjutnya di masa akan datang bahwa mereka akan mencapai keberhasilan apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya. Sebaliknya pada orang yang memiliki locus of control eksternal melihat keberhasilan dan kegagalan dari faktor kesukaran dan nasib, oleh karena itu apabila mengalami kegagalan mereka cenderung menyalahkan lingkungan sekitar yang menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap tindakan dimasa datang, karena merasa tidak mampu dan kurang usahanya maka mereka tidak mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.
Kedua tipe locus of control terdapat pada setiap individu, hanya saja ada kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe locus of control tertentu. Locus of control merupakan dimensi kepribadian yang berupa kontinium dari internal menuju eksternal, oleh karenanya tidak satupun individu yang benar-benar  internal atau yang benar-benar eksternal. Kedua tipe locus of control terdapat pada setiap  individu, hanya saja ada kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe locus of control tertentu. Disamping itu locus of control tidak bersifat stastis tapi juga dapat berubah. Individu yang berorientasi internal locus of control dapat berubah menjadi individu yang berorientasi eksternal locus of control dan begitu sebaliknya, hal tersebut disebabkan karena situasi dan kondisi yang menyertainya yaitu dimana ia tinggal dan sering melakukan aktifitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar