KEBERSAMAAN

KEBERSAMAAN

Jumat, 15 April 2011

Menumbuhkan Minat Siswa terhadap Matematika

Adanya mitos-mitos tentang matematika membuat hampir semua orang menjauhi pelajaran matematika. Nah, sekarang bagaimana kita mengupayakan agar matematika bisa memasyarakat. Dalam artian, bagaimana masyarakat itu mengetahui matematika secara utuh, sehingga tidak ada kepincangan informasi di masyarakat. Karena informasi parsial yang diterima masyarakat merupakan salah satu akar permasalahan yang menimbulkan matematika tidak memasyarakat. Kepincangan informasi tersebut yang mengakibatkan persepsi masyarakat terhadap matematika menimbulkan kesan negatif. Dengan deminikan, cara yang paling efektif, menurut hemat penulis dalam rangka memasyarakatkan konsep matematika secara utuh adalah melalui siswa yang sedang belajar matematika di bangku sekolah. Lalu, bagaimana seharusnya proses pendidikan atau pembelajaran matematika di sekolah itu diselenggarakan? Mungkinkah menghadirkan pendidikan matematika tidak lagi dipandang sebagai momok yang menyeramkan?
Dalam menghadapi kompleksitas permasalahan pendidikan matematika di sekolah, pertama kali yang harus dilaksnakan adalah bagaimana menumbuhkan kembali manat siswa terhadap matematika. Sebab tanpa adanya minat, siswa akan sulit untuk mau belajar, dan kemudian menguasai matematika secara sempurna. Menumbuhkan kembali minat siswa terhadap matematika akan sangat terkait dengan berbagai aspek yang melingkupi proses pembelajaran matematika di sekolah. Aspek-aspek itu menyangkut pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran matematika, metode pengajaran, maupun aspek-aspek lain yang mungkin tidak secara langsung berhubungqan dengan proses pembelajaran matematika, misalnya sikap orang tua (atau masyarakat pada umumnya) terhadap matematika.
Untuk menumbuhkan minat siswa terhadap matematika, pembelajaran matematika di sekolah dalam penyajiannya harus diupayakan dengan cara yang lebih menarik bagi siswa. Apalagi matematika sebenarnya memiliki banyak sisi yang menarik. Namun, sering kali sisi tersebut tidak dihadirkan dalam proses pembelajaran matematika. Akibatnya, siswa mengenal matematika tidak secara utuh. Matematika hanya dikenal oleh siswa sebagai kumpulan rumus, angka dan simbol belaka.
Pembelajaran matematika di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pendekatan yang digunakan oleh guru. Pendekatan tersebut biasanya dipengaruhi oleh pemahaman guru tentang sifat matematika, bukan oleh apa yang diyakini plaing baik untuk proses pembelajaran matematika di kelas. Guru yang memandang matematika sebgai produk yang sudah jadi akan mengarahkan proseis pembelajaran siswa untuk menerima pengetahuan yang sudah jadi. Guru akan cenderung mengisi pikirian siswa dengan sesuatu yang jadi. Sementara guru yang memandang bahwa matematika merupakan suatu proses, akan lebih menekankan aspek proses daripada aspek produk dalam pembelajaran matematika (Marpaung 1998).
Namun sayang, pendidikan matematika di negeri ini sudah terlanjur dan banyak “luka psikologis” yang diderita siswa berkaitan dengan pendidikan matematika. Untuk dapat menyembuhkan luka psikologis tersebut, peran seorang guru sangat besar sehingga minat siswa terhadap matematika tumbuh subur kembali. Di samping peran guru, peran siswa, orangtua dan pihak lain yang secaraq langsung maupun tidak langsung tgerlibat dalam proses pembelajaran matematika di sekolah juga ikut mendukung, agar pendidikan matematika di sekolah juga ikut mendukung, agar pendidikan matematika di sekolah dapat berlangsung dengan baik dan sampai pada tujuannya. Antara satu komponen dan komponen lain yang terlibat dalam pendidikan matematika diharapkan dapat saling menginspirasi atar pembelajaran matematika di sekolah mendjadi lebih menyenangkan, lebih mengasyikkan, lebih dinamis dan humanis.
Berbagai usaha yang dilakukan dalam proses pembelajarqan matematika di sekolah tersebut, diharapkan matematika tidak lagi dipandang secara parsial oleh siswa, guru, masyarakat atau pihak lain. Melainkan mereka dapat memandang matematika secara utuh yang pada akhirnya dapat memacu dan berpartisipasi untuk membangun peradaban dunia demi kemajuan sains dan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi ummat manusia.
(disadur dari buku: Mathematical Intelligence)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar